Catatan Tamasya Trotoar Jakarta, Koridor Sudirman-Thamrin

Jalal

Lurus, rata, dan rapi adalah janji Gubernur DKI Jakarta soal kondisi trotoar dan jalan di Koridor Sudirman-Thamrin di tanggal 22 Juli 2018. Oleh karena itu, Koalisi Pejalan Kaki kembali mengadakan Tamasya Trotoar Jakarta pada hari ini, untuk melihat apakah janji tersebut mungkin terpenuhi.

Saya turut serta sebagai peserta tamasya itu. Pukul 08.30 kami mulai berjalan. Alfred Sitorus, sang presiden pejalan kaki se-Indonesia, memimpin rombongan kecil. Ada juga Mbak Sita Supomo, aktivis Perempuan Indonesia Anti-Korupsi, dengan Tesky-nya yang sangat menggemaskan. Kami mau lihat, sejauh apakah janji itu dengan realitasnya.

Ketika mulai di depan jembatan penyeberangan orang (JPO) Ratu Plaza, kami sudah tahu bahwa realisasi janji itu mustahil dipenuhi. Candaan berbau sejarah dan mitologi yang kami lontarkan adalah bahwa cuma Bandung Bondowoso yang bakal bisa mewujudkan janji lurus-rata-rapi itu sebelum pukul 24.00 nanti.

Tanah urugan, potongan ubin dan tumpukan guiding block bisa kami lihat di mana-mana. Berantakan, berdebu, dan kotor adalah kesan kami semua. Di bagian awal tamasya, kami jelas melihat trotoar tanpa bidang miring (yang menyusahkan pengguna kursi roda, penyandang disabilitas tuna netra, atau orang tua) ada banyak. Di beberapa tempat ada bidang miringnya, tetapi sangat curam, sehingga juga sulit dimanfaatkan oleh orang dengan kondisi tertentu.

Guiding block juga banyak yang terputus, membuat para penyandang tuna netra kesulitan. Di beberapa tempat, petunjuk ini bahkan belum terpasang sama sekali, dan kami tak tahu akankah dipasang atau tidak. Di ujung perjalanan, yaitu di pengkolan Sarinah, kami malah menyaksikan guiding block yang menabrak tiang rambu lampu lintas. Ini tentu saja berbahaya buat penggunanya. Kalau bukan kejahatan, ini tentu adalah bentuk kepandiran, atau ketidakpedulian.

Soal taman juga jadi perhatian kami. Kotak-kotak di sebelah trotoar itu banyak yang masih kosong, sehingga kami bisa lihat kedalamannya. Atau, lebih tepatnya, kedangkalannya. Di beberapa tempat, tak lebih dari jengkal manusia dewasa. Jadi, itu bisa dipakai untuk menaruh rumput. Tapi untuk menumbuhkannya, tentu urusan yang lain. Kami melihat warna tanahnya antara merah dan coklat muda, menandakan hara yang miskin. Ada tempat yang baru ditanami rumput, dan kami melihat tak ada penambahan tanah pucuk. Tak jelas apakah rabuk juga diberikan.

Di beberapa tempat, yang ditanam bukan cuma rumput. Ada yang ditanami dengan perdu, bahkan tanaman keras. Kami berdiskusi soal apakah mungkin perdu, apalagi pohon, tumbuh di kedangkalan seperti itu. Tidakkah tanaman-tanaman itu mati segera lantaran tempat tumbuhnya memang tak memadai? Atau, apakah ini sekadar gincu yang dipakai sepanjang koridor ini, lalu dibongkar lagi ketika perhelatan sukan se-Asia itu berakhir?

Di beberapa tempat lain, kami menyaksikan beberapa kecerobohan dalam pengerjaan konstruksi ini. Daun-daun di bawah Jembatan Semanggi memutih, bersalut cat, yang tentu membuat mereka tak bisa berfotosintesis dengan sempurna, sekarat, lalu mati. Kami juga menyaksikan jalan masuk air yang dipasang lebih tinggi daripada jalan. Apakah maksudnya memang perlu tergenang beberapa centimeter dulu, baru kemudian airnya masuk? Bagaimana dengan sisa genangan yang lebih rendah dari titik masuk itu?

Soal kemungkinan banjir, atau genangan, ini memang jadi diskusi kami. Selain kotak-kotak tempat rumput, perdu, dan pohon itu, yang tak cukup jelas jalan airnya; jalan masuk air yang lebih tinggi daripada jalan; kami juga menyaksikan sepanjang beberapa ratus meter trotoar mulai di depan Gedung WTC ke arah Bundaran HI terlihat jelas lebih rendah daripada jalan. Kami khawatir jalur pedestrian itu yang bakal jadi tempat berkumpulnya air bila hujan deras datang.

Dua sungai yang kami lintasi di Jalan Sudirman jelas tak bisa dibanggakan kepada para tamu yang bakal hadir. Walaupun tak tercium bau busuk seperti di Kali Item yang barusan jadi kontroversi karena pemasangan waring; tetap wajah dua sungai itu memalukan. Airnya jelas hitam, dan buangan sampah plastik dan rekan-rekannya sangat banyak. Apakah ada hal yang bakal dilakukan terkait kedua sungai itu? Entahlah.

Soal sampah ini memang kita tak bisa menutup mata dari kontribusi masyarakat. Limbah rumah tangga dan industri rumahan meluncur langsung ke sungai. Ini butuh perhatian ekstra, karena bukan sekadar terkait masalah teknis dan fasilitas, melainkan dan terutama masalah pengetahuan, perilaku, kebiasaan, dan budaya masyarakat. Kami misalnya melihat banyaknya tempat sampah, dibedakan berdasarkan jenisnya antara 3-5 tempat, yang sudah dipasang di koridor ini. Tetapi, masyarakat masih saja membuang sampah dengan sembarangan, tidak sesuai kategori sampah, bahkan membuangnya ke dalam lapangan di kompleks Gelora Bung Karno.

Sepanjang jalan kami bertanya kepada orang-orang yang kami temui. Tak ada yang berpikir janji Gubernur DKI bakal terwujud. Ada yang bilang optimis, dengan syarat turun bantuan dari Gatotkaca, sang pahlawan dengan otot kawat dan tulang besi, tapi itu jelas candaan pahit. Ketika pertanyaan kami geser dengan tenggat waktu yang dijanjikan oleh Wakil Gubernur DKI, yaitu tanggal 31 Juli 2018, ada yang bilang itu mungkin tercapai, dengan syarat seluruh sumberdaya dikerahkan. Bukan cuma milik Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat, melainkan juga sumberdaya perusahaan yang memiliki atau berkantor di gedung-gedung sepanjang Koridor Sudirman-Thamrin. Juga, sumberdaya masyarakat.

Kami setuju bahwa sudah saatnya mengeluarkan seluruh sumberdaya negeri ini untuk menyukseskan perbaikan itu. Lebih jauh lagi, tentu kita perlu ingat bahwa Jakarta bukanlah cuma sepotong koridor sepanjang kira-kira 4,3 kilometer itu. Seabreg pekerjaan untuk membuat Jakarta menjadi kota yang walkable (sebagai bagian kecil dari upaya menjadi sustainable city) masih menunggu. Kalau Jakarta saja masih seperti sekarang, tentu tempat-tempat lain masih butuh perhatian relatif lebih banyak. Dan walkability ini bukan sekadar urusan membuat jalan dan trotoar yang lurus, rata, dan rapi. Tapi urusan yang itupun ternyata belum akan terwujud juga di koridor yang konon adalah wajah Jakarta, di hari yang dijanjikan gubernurnya ke semua orang.

Jakarta, 22 Juli 2018, 14:30

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *